Pernikahan Baik Untuk Kesehatan Jantung, Apa Hubungannya?

Sebuah analisis baru pada studi yang sudah dilakukan menyatakan bahwa mereka yang masih melajang, yang baru melakukan perceraian, atau sedang menduda dan menjanda, memiliki peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke. Para peneliti analisis tersebut menyatakan bahwa penyedia layanan kesehatan mempertimbangkan status pernikahan sebagai faktor risiko mandiri. 

Penyakit jantung tersu menjadi penyebab utama kematian, baik pada pria dan wanita, di seluruh dunia. Sebesar 80 persen dari karus penyakit jantung diketahui disebabkan oleh beberapa faktor risiko, seperti merokok, level kolesterol jahat yang tinggi, usia, jenis kelamin, dan kondisi lain seperti diabetes dan tekanan darah tinggi. Lalu apa faktor risiko yang mencakup sisanya? Sebuah tim internasional yang terdiri dari para peneliti ingin melihat apakah status pernikahan seseorang akan memengaruhi risiko mengembangkan penyakit jantung. Temuan mereka diterbitkan dalam jurnal “Heart”.

Untuk menemukan pengaruh status pernikahan dengan insiden penyakit jantung, tim peneliti memeriksa 34 studi,menarik kesimpulan dari lebih dari 2 juta peserta, berusia 42 hingga 77 tahun, dan dari seluruh dunia. Para peneliti melakukan analisis gabungan dari studi tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa orang-orang yang belum pernah melangsungkan pernikahan, bercerai, atau menduda/mennjanda memiliki kemungkinan sebesar 42 persen untuk menderita penyakit kardioavaskular dibandingkan dengan mereka yang menikah. 

Selain itu, para lajang, bercerai, dan menduda/menjanda memiliki 16 persen risiko lebih tinggi dalam menderita penyakit arteri koroner, sekaligus 42 persen kemungkinan lebih tinggi meninggal karenanya. Para peserta tersebut juga memilki 55 persen kemungkinan lebih tinggi untuk meninggal akibat stroke. Analisis yang lebih mendetail dari data menunjukkan bahwa menjalani proses perceraian meningkatkan risiko penyakit jantung sebesar 35 persen baik pada pria dan wanita, dan menduda/menjanda meningkatkan kemungkinan memiliki stroke sebesar 16 persen. Tidak pernah menikah juga meningkatkan risiko kematian setelah serangan jantung sebesar 42 persen. Akan tetapi, tidak ada perbedaan statistic yang dilihat dalam kasus keselamatan setelah mengalami serangan stroke. 

Para peneliti menunjukkan beberapa kekuatan dan kekurangan dari studi tersebut. Mereka mengklaim bahwa ini adalah studi terbesar dalam hal tersebut saat ini, dan memiliki akses terhadap etnisitas dan usia perserta membuat temuan menjadi bisa diaplikasikan dengan luas. Akan tetapi, para peneliti mengakui bahwa mereka tidak memiliki informasi  pada hubungan atau pernikahan jenis kelamin sama, dan kualitas dari pernikahan tidak dipertimbangkan. Selain itu, ada pula kemungkinan tinggal bersama, dan bukan pernikahan, yang bermanfaat bagi kesehatan jantung. Kelemahan lainnya adalah studi yang diberiksa memiliki penggunaan metode yang bervariasi. Terakhir, karena penelitian bersifat observasional, kesimpulan seputar mekanisme kausal dibalik asosiasi yang ditemukan tidak dapat ditarik. Para peneliti membuat spekulasi pada beberapa potensi alasan mengapa pernikahan dapat melindungi kesehatan jantung. Beberapa di antaranya adalah keamanan finansial, kesejahteraan yang lebih tinggi, kepatuhan pengobatan yang lebih kuat, pengenalan masalah kesehatan yang lebih cepat dan mengambil tindakan yang tepat. 

Satu hal yang perlu diketahui dari studi tersebut, adalah fakta bahwa kualitas pernikahan tidak dipertimbangkan dalam temuan studi. Pernikahan yang baik tentunya bisa memberikan dampak positif terhadap kesehatan seseorang. Tidak hanya kesehatan fisik saja yang dapat meningkat, tetapi juga kesehatan mental dan emosional. Begitu pula sebaliknya, pernikahan yang buruk malah dapat menimbulkan kekacauan mental dan emosional, menyebabkan depresi, stres, dan meningkatkan risiko penyakit kronis seperti tekanan darah tinggi dan serangan jantung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *